RSS

metode menghafal al-qur’an


Saudaraku sesama muslim, tentunya anda sudah mengetahui keutamaan menghafal al-Qur’an dan keutamaan mempelajarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Yang terbaik dari kalian adalah yang mempela-jari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”[1]

Inilah sebagian kaidah untuk menghafal al-Qur’an, semoga Allah memberikan manfaat kepada kami dan anda sekalian dengannya.

Kaedah Pertama : Ikhlas

Wajib berniat dengan ikhlas dan memperbaiki tujuan, menjadikan hafalan al-Qur’an hanya untuk Allah dan untuk mendapatkan Surga-Nya, mencapai keridhaan-Nya serta mendapatkan pahala yang agung tersebut bagi orang yang membaca al-Qur’an dan menghafalkannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. 39:2-3)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Katakanlah:”Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. 39:11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

قَالَ اللهُ تَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ مَعِيْ فِيْهِ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, Aku sama sekali tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amalan dengan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya.” [2]

Maka tidak ada pahala maupun balasan baik bagi orang yang membaca al-Qur’an dan menghafalkannya dengan tujuan untuk mendapat pujian. Tidak disang-sikan bahwa orang yang membaca al-Qur’an untuk tujuan dunia, untuk mendapatkan pahala duniawi, ia telah berbuat suatu dosa.

Kaedah Kedua : Memperbaiki Pengucapan Bacaan

Langkah pertama dalam menghafal al-Qur’an setelah ikhlas adalah keharusan untuk memperbaiki pengucapan al-Qur’an. Hal itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan mendengar dari seorang qari’ yang baik bacaannya atau seorang hafizh yang telah lancar hafalannya. Al-Qur’an tidak dipelajari kecuali dengan sistem talaqqi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang paling fasih lidahnya, mendapatkan bacaan Al-Qur’an dari Jibril ‘alaihis salam secara lisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri memperdengarkan hafalan al-Qur’an kepada Jibril setiap tahun sekali pada bulan Ramadhan, dan mengajukan hafalannya dua kali pada tahun kematian beliau. [3]

Demikian pula beliau mengajarkan kepada para shahabatnya secara lisan, dan generasi-generasi berikutnya yang belajar dari para shahabat.

Inilah kewajiban sekarang, mempelajari al-Qur’an dari seorang qari’ yang baik bacaannya. Memperbaiki bacaan sedikit demi sedikit dan tidak bersandar pada diri sendiri dalam membaca al-Qur’an, meskipun ia adalah orang yang mengerti bahasa Arab dan paham tata bahasa Arab. Karena di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang berbeda dengan kaedah bahasa Arab yang masyhur.

Kaedah Ketiga : Membatasi Materi Hafalan Setiap Hari

Bagi seseorang yang ingin menghafal al-Qur’an hendaknya membatasi materi hafalannya setiap hari sebatas kemampuannya. Beberapa ayat misalnya, satu atau dua halaman, atau seperdelapan juz dan seterusnya. Kemudian ia memulai hafalannya setelah memberi batasan materi hafalan dan mulai memperbaiki bacaannya dengan mengulang-ulang berkali-kali.

Hendaknya dalam mengulang-ulang ini dia membacanya dengan berirama (tartil). Pertama, untuk mengikuti sunnah, dan kedua untuk lebih menetapkan dan menguatkan hafalannya. Karena bacaan berirama akan lebih enak kedengaran dan membantu untuk mempermudah hafalan serta membiasakan lisan untuk mengeluarkan suara tertentu, sehingga akan segera tahu kesalahan saat merasakan bacaan yang tidak seperti biasanya. Dengan demikian seorang qari’ akan merasa bahwa lisannya tidak enak saat mengucapkan hafalan yang salah. Ditambah lagi bahwa membaca al-Qur’an dengan berirama adalah sunnah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa tidak menyenandungkan al-Qur’an (tartil) maka dia bukan dari golongan kami.” [4]

Kaedah Keempat : Tidak Menambah Materi Hafalan Hingga Hafalan Sebelumnya Betul-betul Matang

Tidak diperbolehkan bagi seorang hafizh untuk pindah hafalan ke materi baru sebelum melancarkan materi hafalan sebelumnya. Hal itu untuk mematangkan hafalannya dalam ingatan. Tentu saja kesibukan seorang penghafal siang malam untuk melancarkan hafalan akan sangat membantu untuk mematangkan hafalannya. Misalnya dengan membacanya dalam shalat dengan suara kecil. Jika sebagai imam, membacanya dengan keras. Demikian pula dalam shalat-shalat sunnah, waktu-waktu untuk menunggu didirikannya shalat, seusai shalat dan sebagainya. Dengan demikian proses menghafal akan terasa mudah sekali dan setiap orang bisa membiasakannya, meski ia mempunyai banyak kesibukan, karena ia tidak perlu mengkhususkan waktu tertentu untuk menghafal ayat-ayat. Cukup dengan memperbaiki bacaan kepada seorang qari’ dan mengulang-ulang bacaan tersebut di waktu-waktu shalat, saat membaca al-Qur’an dan saat melaksanakan shalat-shalat wajib dan sunnah. Dengan demikian setiap kali datang malam, ayat-ayat yang dihafalkannya telah menetap di dalam otaknya, meski ia harus menghadapi kesibukan pada hari itu.

Kemudian hendaknya ia tidak menambah materi baru pada hari berikutnya, hingga hafalannya menjadi sangat lancar.

Kaedah Kelima : Pergunakan Hanya Satu Jenis Mushhaf Untuk Hafalanmu

Termasuk yang sangat membantu hafalan adalah mengkhususkan satu mushhaf dan tidak menggantinya. Hal tersebut dikarenakan manusia itu menghafalkan dengan penglihatan sebagaimana ia menghafalkan pula dengan pendengaran.

Karena gambaran ayat-ayat beserta tempat-tempatnya di dalam mushhaf akan terekam di dalam otak dikarenakan banyaknya membaca dan melihat kepada mushhaf tersebut.

Jika penghafal mengganti mushhafnya yang biasa dipakai untuk menghafal, atau menggunakan beberapa mushhaf yang berbeda-beda letak ayat-ayatnya, maka hafalannya akan mudah terpecah-pecah dan akan sulit sekali baginya untuk menghafal. Karena itu hendaknya seorang penghafal hanya menggunakan satu jenis tulisan Al-Qur’an saja dan tidak berganti-ganti.

Kaedah Keenam : Memahami Makna Ayat Termasuk Cara Menghafal

Hal terbesar yang bisa menolong memudahkan hafalan adalah memahami ayat-ayat yang sedang dihafalkan dan mengerti hubungan antara satu ayat dengan lainnya. Karena itu seorang penghafal hendaknya membaca pula tafsir dari ayat yang ingin dihafalkannya, dan memahami hubungan antara satu ayat dengan lainnya serta menghadirkan pikiran saat membaca sehingga akan mudah baginya mengingat ayat-ayat. Namun demikian hendaknya tidak menyandarkan hafalan hanya pada pemahaman saja, akan tetapi hendaknya dibarengi dengan bacaan yang berulang-ulang, karena inilah dasar untuk menghafal. Dengan demikian lisan akan terbiasa melafazhkan ayat-ayat tersebut, meski kadang-kadang fikiran lalai untuk memahami maknanya. Adapun orang yang hanya mengandalkan pada pemahaman saja, maka ia akan sering lupa dan bacaan akan terhenti dengan terputusnya pikiran. Inilah yang sering terjadi, khususnya pada bacaan-bacaan yang panjang.

Kaedah Ketujuh : Jangan Melewati Batas Surat Sampai Bisa Menggabungkan Surat dari Awalnya dengan Akhirnya

Setelah sempurna menghafal satu surat dalam al-Qur’an hendaknya seorang penghafal tidak segera berpindah kepada surat baru kecuali bila sudah betul-betul hafal dan bisa menghafal dengan bersambung dari awal surat hingga akhirnya, lisannya melafazhkannya dengan lancar dan mudah tanpa harus terlalu keras berfikir dalam mengingat ayat-ayat dan mengikuti bacaan. Hendaknya seorang penghafal seperti air mengalir dengan menghafal ayat-ayat al-Qur’an tanpa tersendat-sendat, meski kadang-kadang pikirannya lepas dari memahami makna ayat-ayat tersebut. Sebagaimana seorang qari’ yang membaca surat al-Fatihah, tanpa harus berfikir keras dan menghadirkan pikiran. Ia mampu melakukannya karena sering mengulang-ulangnya bacaannya. Akan tetapi hafalan al-Qur’an tidak mungkin seperti hafalan atas surat al-Fatihah, kecuali sangat sedikit sekali yang bisa. Yang dimaksud di sini adalah sebagai permisalan. Selanjutnya hendaklah surat yang dihafal betul-betul menetap di dalam otak dengan saling berurutan dan terkait, dan hendaknya tidak menambah kepada surat lainnya kecuali setelah menguatkan hafalan pada surat tersebut.

Kaedah Kedelapan : Terus-menerus Memperdengarkan Hafalan

Hendaknya seorang yang menghafalkan al-Qur’an tidak hanya mengandalkan hafalan pada diri sendiri saja, akan tetapi hendaknya selalu memperdengarkan hafalannya kepada orang lain atau dengan orang yang menyimak dari mushhaf langsung. Lebih baik lagi kalau memperdengarkan kepada seorang penghafal yang sudah lancar, karena ia bisa memperingatkan seorang hafizh saat ia lupa ayat yang akan dibacanya, atau terulang bacaannya tanpa disadari.

Banyak terjadi seseorang dari kita menghafal al-Qur’an dengan bacaan yang salah tidak ada yang memberi peringatan, bahkan meski ia membaca langsung dari mushhaf, karena biasanya bacaan itu mendahului pandangan, sehingga seorang penghafal melihat pada mushhaf dan tetap tidak mengetahui tempat kesalahan bacaannya. Karena itu memperdengarkan hafalan kepada orang lain merupakan salah satu sarana untuk menghindari kesalahan-kesalahan semacam ini, sebagai peringatan bagi pikiran dan hafalannya.

Kaedah Kesembilan : Terus-menerus Dalam Menghafal

Al-Qur’an tidak sama dengan hafalan-hafalan lain seperti syair, puisi atau karangan, karena al-Qur’an sangat cepat lari dari ingatan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِيْ عَقْلِهَا

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta yang lepas dari talinya.” [5]

Hingga seorang hafizh apabila meninggalkan hafalannya sedikit saja, maka al-Qur’an akan meninggalkannya dan ia akan cepat sekali lupa. Karena itu ia harus terus menerus dalam menghafalnya dan memelihara yang sudah dihafalnya. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ اْلقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ اْلإِبِلِ الْمُعَلَّقَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

“Permisalan seorang yang menghafal al-Qur’an sebagaimana pemilik unta terikat. Apabila ia menjaganya, maka ia memegangnya. Apabila ia melepaskannya, maka unta itu akan pergi.” [6]

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِيْ عَقْلِهَا

“Ulang-ulangilah al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta yang lepas dari talinya.” [7]

Ini berarti bahwa wajib bagi seorang penghafal al-Qur’an untuk selalu menyempatkan diri mengulang hafalannya, paling sedikit satu juz dari tiga puluh juz dalam al-Qur’an setiap hari, atau lebih dari itu, semisal sepuluh juz, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ قَرَأَ اْلقُرْآنَ فِيْ أَقَلِّ مِنْ ثَلاَثٍ لَمْ يُفَقِّهْهُ

“Barangsiapa membaca al-Qur’an (lengkap) kurang dari tiga hari, maka ia tidak mampu memahaminya.”

Dengan selalu mengulang-ulang hafalan dan mendalami secara terus-menerus akan menjadikan hafalan menetap dan lengket. Tanpa itu, al-Qur’an akan hilang dari ingatan.

Kaedah Kesepuluh : Memperhatikan Ayat-ayat yang Hampir Mirip

Terdapat beberapa kesamaan makna, lafazh dan ayat dalam al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS. 39:23)

Dari sekitar enam ribu ayat lebih di dalam al-Qur’an, terdapat dua ribu ayat-ayat yang mempunyai kemiripan, yang kadang-kadang berbeda akhirnya saja, atau berbeda satu huruf, satu kata atau dua kata atau lebih.

Karena itu bagi seorang pembaca yang baik hendaknya mempunyai perhatian khusus terhadap ayat-ayat yang mempunyai kesamaan dari sisi lafazhnya. Dengan memperhatikan ayat-ayat yang mirip akan menjadikan hafalan semakin baik. Hal itu bisa dilakukan dengan banyak membaca kitab-kitab yang membahas hal ini secara khusus, di antaranya yang masyhur adalah :
1. Durratut Tanziil wa Ghurratut Ta’wil fii Bayaanil Aayaatil Mutasyaabihaat fii Kitaabil-laahil Aziiz, karya Al-Khatib Al-Iskafi.
2. Asraarut Tikraar fil Qur’aan, karya Mahmud bin Hamzah bin Nashr Al-Karmani.
3. Dan lain-lain.

Kaedah Kesebelas : Pergunakan Usia Paling Baik Dalam Menghafal

Sungguh mendapat taufik orang yang mempergunakan usia paling baik dalam menghafal, yaitu usia mulai dari lima tahun sampai dua puluh tiga tahun. Dalam usia ini ingatan seseorang sangat baik sekali, bahkan merupakan usia yang paling baik dalam menghafal. Usia di bawah lima tahun kekuatan hafalan manusia di bawah itu, sementara usia setelah dua puluh tiga tahun, grafik kekuatan hafalan seseorang mulai menurun dan grafik kekuatan pemahaman mulai naik. Karena itu seseorang hendaknya menggunakan usia ini untuk menghafalkan Kitabullah semampunya.

Hafalan pada usia ini sangat cepat dan kelupaan sangat lambat. Selain umur tersebut, hafalan akan sulit dan kelupaan sangat mudah. Maka benarlah orang yang mengatakan :
Menghafal pada usia muda bagaikan mengukir di atas batu. Menghafal pada usia tua bagaikan mengukir di atas air

Maka hendaklah kita mempergunakan usia ini, kalau tidak mungkin lagi bagi diri kita, setidaknya bagi putra-putri kita.

Hanya Allah-lah pemberi taufik, dan semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh shahabatnya.

Catatan Kaki

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5027 dalam Fadhilah Al Qur’an, bab “Yang terbaik dari kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” dari hadits riwayat Utsman radhiyallahu ‘anhu.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2985 dalam az-Zuhd war Raqaa’iq, bab “Barangsiapa yang menyekutukan Allah dalam perbuatannya.” Dari hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4998 dalam Fadhilah al-Qur’an bab “Jibril memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” dari hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.

[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 7527 kitab Tauhid, bab (44) dari hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5033 dalam kitab Fadha’il, bab (22), dan diriwayatkan Muslim, no. 791 dalam kitab Shalat Orang yang bepergian dan qasharnya, bab (23) dari hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

[6] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5031 kitab Fadha’ilul Qur’an, bab “Mengulang hafalan dan mengingatnya” dan Muslim, no. 789 dalam Shalat Orang bepergian dan qasharnya, bab “Perintah untuk mengulang al-Qur’an…” dari hadits riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu.

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5033 dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, bab (22), dan diriwayatkan Muslim, no. 791 dalam kitab Shalat orang yang bepergian dan qasharnya, bab (23) dari hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: