RSS

Makna dan Kandungan La Ilaha Illallah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَه وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta. Kita senantiasa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala karena keagungan dan kesempurnaan-Nya, serta karena keadilan hukum-hukum-Nya dan hikmah yang ada di balik ketentuan-ketentuan-Nya.
Marilah kita sentiasa menjaga diri kita dari adzab api neraka. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih perintah yang paling besar yaitu tauhid, dan larangan yang paling besar yaitu berbuat syirik. Karena pentingnya hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan tauhid sebagi perintah yang pertama di dalam Al-Qur`an. Yaitu di dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengiringkan perintah tauhid ini dengan larangan yang pertama di dalam Al-Qur`an, yaitu perbuatan syirik. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:
فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22)
Sungguh merupakan pemandangan yang sangat memprihatinkan, ketika kita dapati ternyata banyak di antara kaum muslimin yang masih melakukan perbuatan syirik ini. Di antara perbuatan syirik yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah menjadikan orang-orang yang sudah meninggal dunia sebagai perantara dalam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga iapun meminta dan berdoa kepadanya. Sebagian mereka menganggap bahwa perbuatan yang mereka lakukan bukanlah syirik. Karena mereka menyangka bahwa syirik adalah beribadah kepada patung. Sementara mereka berdoa kepada orang yang dianggap shalih yang telah meninggal dunia, dan itupun hanya sebatas menjadikan mereka sebagai perantara. Tidak meyakini bahwa orang shalih yang telah meninggal tersebut bisa menghilangkan kesulitan atau mengabulkan apa yang mereka butuhkan. Bahkan mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta.
Ketahuilah, bahwa orang-orang kafir di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang-orang yang mengingkari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang mereka dalam firman-Nya:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (Luqman: 25)
Orang-orang musyrikin dahulu, juga bukan orang-orang yang hanya beribadah pada patung saja. Mereka juga beribadah kepada kuburan orang-orang yang dianggap shalih. Bahkan perbuatan syirik yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah berupa peribadatan kepada orang shalih yang telah meninggal dunia, sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan yang kalian ibadahi dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (sesembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (Nuh: 23)
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa sahabat Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan berkaitan dengan ayat tersebut: “Nama-nama yang disebutkan di dalam ayat tersebut adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk meletakkan pada majelis-majelis mereka patung/prasasti untuk mengenang orang shalih tersebut. Dan (setan membisikkan) agar mereka memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama orang shalih (yang telah meninggal) tadi. Merekapun mengikuti bisikan setan tersebut. Pada awalnya patung-patung tersebut tidak mereka ibadahi. Namun ketika datang generasi setelah mereka dan juga setelah ilmu dilupakan, akhirnya patung/prasasti tersebut diibadahi.”
Adapun keyakinan mereka bahwa orang shalih yang telah meninggal dunia tersebut sekadar dijadikan perantara, tanpa meyakini bahwa mereka bisa menghilangkan musibah dan yang lainnya, adalah keyakinan yang tidak berbeda dengan keyakinan orang-orang musyrikin di zaman dahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang mereka di dalam firman-Nya:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ
“Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada Kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)
Dari ayat-ayat tersebut kita mengetahui bahwa perbuatan menjadikan orang yang telah meninggal dunia sebagai perantara dalam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah agama orang-orang musyrikin. Bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan itu adalah agama Abu Jahl dan Abu Lahab serta orang-orang musyrikin dahulu. Bahkan bisa jadi, orang-orang musyrikin zaman sekarang lebih jelek dibandingkan orang-orang musyrikin di zaman dahulu. Karena mereka meminta pertolongan kepada orang yang meninggal dunia tersebut bukan hanya ketika dalam keadaan tenang saja. Bahkan ketika ditimpa musibahpun mereka masih melakukan hal itu. Sementara orang-orang musyrikin di zaman dahulu, ketika ditimpa bencana mereka meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ketika diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari bencana, mereka kembali berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beribadah kepada selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam firman-Nya:
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila menimpa kalian (orang-orang kafir) suatu bahaya di lautan, niscaya hilanglah seluruh yang kalian ibadahi kecuali Allah, maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian pun berpaling. Dan manusia itu adalah banyak mengingkari nikmat Allah.” (Al-Isra`: 67)
Yang sangat mengherankan adalah bahwa perbuatan syirik ini justru dilakukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai tokoh Islam. Akibat dari perbuatan mereka ini, syirik atau hal-hal yang akan menyeret kepada perbuatan syirikpun menjadi lebih tersebar di kalangan masyarakat. Masjid-masjid yang dibangun kuburan di dalamnya tersebar di mana-mana. Begitu pula kuburan-kuburan yang dikeramatkan dibangun sedemikian rupa sehingga menyerupai rumah atau bahkan masjid. Hal ini adalah perkara yang tidak diajarkan oleh Islam, bahkan akan menyeret pada perbuatan syirik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tersebut dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, telah mengingatkan dalam sabdanya:
لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ؛ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوْا
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat beribadah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan (umatnya) dari apa yang mereka lakukan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya juga memerintahkan agar setiap kuburan yang tingginya melebihi satu jengkal untuk diratakan, sehingga tingginya tidak lebih dari satu jengkal. Sebagaimana tersebut dalam hadits:
أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
“Maukah engkau aku utus dengan sesuatu yang aku diutus dengannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jangan engkau biarkan patung (makhluk yang bernyawa) kecuali engkau harus menghilangkannya, dan (jangan engkau biarkan) kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan (menjadi satu jengkal).” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk hati-hati dan waspada terhadap orang-orang yang menyampaikan agama ini tanpa ilmu. Janganlah kita tertipu dengan mereka yang berdalih dalam rangka mencintai orang shalih. Padahal yang mereka lakukan adalah perkara yang dilarang dalam Islam, yaitu berlebih-lebihan terhadap orang shalih yang akan menyeret pada perbuatan syirik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peringatan bagi kita semua.

Marilah kita berusaha untuk senantiasa mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengamalkannya. Karena ilmu adalah cahaya. Barangsiapa mencarinya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mudahkan jalannya menuju surga. Sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang akan menyeret seseorang ke dalam kesesatan di dunia dan kesengsaraan di akhirat.
Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah dikatakan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan mentauhidkan-Nya. Sementara itu tidaklah seseorang dikatakan bertauhid kecuali dengan berlepas diri dari syirik. Sehingga apabila seseorang belum meninggalkan syirik, maka ibadah dan kebaikan sebanyak apapun yang dilakukannya tidak akan ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (yaitu amalan orang-orang yang tidak beriman), lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)

Ketahuilah bahwa tauhid adalah makna yang terkandung dalam dalam kalimat Laa ilaaha illallah yang senantiasa kita ucapkan. Sehingga orang yang telah menyatakan dirinya bersaksi dengan kalimat ini, harus mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan mengarahkan seluruh bentuk ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan harus meninggalkan segala peribadatan kepada selain-Nya. Karena kalau dia berbuat syirik, maka seluruh ibadah yang dilakukan baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, membaca Al-Qur`an dan yang lainnya, akan gugur dan tidak ada manfaatnya. Hal ini sebagaimana terekam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Tauhid inilah yang tidak diterima oleh orang-orang kafir Quraisy ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu diutus kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan jawaban mereka ketika diperintah untuk mengucapkannya di dalam firman-Nya:
أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir Quraisy tidak mau mengucapkannya karena mereka mengetahui makna kalimat ini. Yaitu, mereka harus meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal inilah yang tidak mau mereka terima.
Maka sungguh sangat memprihatinkan, ketika ada seorang muslim yang tidak mengetahui makna Laa ilaaha illallah. Apa kelebihannya dari kafir Quraisy, apabila dia mengucapkan kalimat yang agung ini namun tidak mengetahui maknanya? Maka dari itu, wajib bagi kita semuanya untuk memahami dan mengamalkan kandungan kalimat Laa ilaaha illallah ini. Janganlah kita menyangka bahwa kalimat ini cukup dan sudah bermanfaat dengan hanya diucapkan saja dan tidak perlu dipahami maknanya. Bukankah dahulu orang-orang munafiq juga mengucapkannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun di mana akhir keberadaan mereka? Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa mereka nantinya akan dimasukkan ke dasar api neraka. Nas`alullah as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari terkena api neraka).
Akhirnya, marilah kita menjauhi dan berlepas diri dari perbuatan syirik, sebagai bentuk pengamalan kita dari kalimat yang agung ini. Begitu pula, marilah kita berusaha menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya dan menjauhi seluruh larangan-Nya sehingga kita akan semakin sempurna dalam menjalankan kalimat tauhid ini.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada kita semua agar dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa untuk kemudian mendapatkan kenikmatan surga yang dijanjikan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=665

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: